
Pembaca yang terhormat, berapa banyak Sarjana di negeri ini yang terjebak oleh gelar, sehingga mereka memiliki pandangan hidup bahwa dengan gelar sarjananya mereka akan menjalani hidup. Mereka berharap mendapat pekerjaan yang layak karena gelarnya, berharap gaji sedang karena IPK-nya yang pas-pasan, atau percaya diri dengan gaji besar karena IPK-nya memang besar dan baik. Namun berapa dari mereka, yang tidak peduli dengan gelarnya kemudian memutuskan untuk menjadi seorang pengusaha dari langkah nol besar ? saya pikir sangat sedikit sekali.
Ya, begitulah kondisi para sarjana dinegeri ini, terjebak pada mindset gelar untuk sebuah pekerjaan. Dan itu bukan terjadi dengan sendirinya, itu sudah menjadi bagian penting untuk sebuah Negara berkembang agar tetap berkembang alias tidak menjadi Negara maju.
Yang terjadi sekarang remaja kita mengalami tekanan, tekanan yang diakibatkan keterbiasaan dan kebiasaan. Para orang tua lebih senang melihat anaknya lulus kuliah kemudian bekerja pada sebuah perusahaan dan memiliki penghasilan tetap dalam waktu selama mungkin. Padahal, bukankah seharusnya Sarjana sudah hingga tahap pemikir konsep?, konsep berwirausaha, konsep menciptakan lapangan kerja, konsep bagaimana caranya memiliki penghasilan bertumbuh pada waktu aktif maupun waktu pasif J.
Sayangnya sampai saat ini masih banyak sarjana kita yang masih terjebak GELAR. Ngeri melepaskan embel-embel dibelakang namanya dan kemudian bersikap acuh untuk memulai usaha mandiri, yang kelak akan mendatangkan penghasilan bertumbuh hingga tahap PASIF INCOME. Bukan sekedar menyerahkan diri untuk bekerja diujung telunjuk dengan penghasilan tetap selama mungkin. Setuju ?
Yogi Wicaksono






0 Tanggapan ke “Terjebak Gelar”